TfCpTfA9GfMpTfG9GSYiGUdoBA==

LONDO IRENG: Antara Sejarah, Mitos, dan Pesan Kekuasaan yang Tak Berbelas Kasih


Narasi: Atto'illah

Semarang, Radarnet.co.id | Istilah Londo Ireng belakangan ini ramai menjadi perbincangan luas di tengah masyarakat. Istilah ini sempat dikemukakan Presiden ke-8 Prabowo Subianto beberapa waktu lalu,  yaitu sebutan yang ditujukan untuk wartawan, pengamat, serta lembaga swadaya masyarakat yang dimaknai sebagai pengkhianat bangsa. 


Kembali populernya istilah yang berakar dari sejarah kolonial dan cerita rakyat Jawa ini kemudian memancing penelusuran makna aslinya, baik dari sisi kebahasaan, sejarah empiris, maupun mitologi yang hidup di ingatan masyarakat.


Secara etimologi, Londo Ireng berasal dari bahasa Jawa yang secara harfiah berarti "Belanda Hitam". Secara sejarah, istilah ini merujuk pada serdadu asal Afrika Barat yang direkrut Pemerintah Hindia Belanda untuk menjadi bagian dari tentara KNIL antara tahun 1831 hingga 1872. Catatan sejarah mencatat bahwa Belanda merekrut tidak kurang dari 3.000 orang dari wilayah Afrika Barat (seperti wilayah yang kini menjadi negara Ghana) untuk ditempatkan di tanah Jawa. Pada masa itu, keberadaan mereka yang memiliki penampilan berbeda dan bertugas di bawah komando penjajah kemudian menjadi bahan pembicaraan sekaligus ejekan di kalangan masyarakat Jawa setempat.


Seiring berjalannya waktu, sebutan ini perlahan menghilang dari catatan sejarah resmi, namun tetap hidup di ingatan kolektif masyarakat melalui cerita lisan turun-temurun. Orang tua zaman dahulu kerap menceritakan sosok Londo Ireng kepada anak-anak mereka menjelang tidur baik sebagai pengantar cerita maupun untuk memberi peringatan agar anak tidak berkeliaran di luar saat larut malam.


Dalam cerita yang tersebar di berbagai pelosok desa di Jawa, sosok ini digambarkan berwujud makhluk hitam pekat, berbulu lebat, dan bertubuh sangat tinggi menjulang serupa pohon kelapa. Seringkali orang tua menunjuk ke arah gelap rerimbunan hutan bambu di ujung dusun atau sudut jalan yang sepi menunjuk tempat persembunyiannya.


Bagi masyarakat Jawa, sosok Londo Ireng ini kemudian disamakan dengan wujud Genderuwo, makhluk mitos yang dikenal tidak pernah meminta izin saat datang, dan tak memedulikan siapa pun yang akan ia temui. Ia digambarkan selalu berdiri tegak dengan bayangan yang menutupi cahaya, berjalan tanpa suara namun kehadirannya terasa menekan dada. Sosok ini menguasai tempat yang ia inginkan, mengusir siapa saja yang berani melintas, dan membuat warga sekitar hidup dalam ketakutan yang abadi. Tak ada yang tahu kapan ia akan marah, kapan mengambil milik orang lain, atau kapan akan menimpakan kesusahan tanpa alasan yang jelas.


Cerita ini ternyata bukan sekadar dongeng penakut untuk anak kecil. Orang tua zaman dahulu memakainya sebagai cermin untuk menggambarkan kenyataan yang mereka rasakan sehari-hari:

Londo Ireng dengan perwujutan tinggi besar, hitam pekat, seolah tak ada yang bisa mengalahkannya. Ia menguasai tanah yang bukan miliknya, menindas siapa yang tak mampu melawan, dan selalu meneror agar semua orang tunduk pada kehendaknya.


Begitulah pula mereka yang bertindak seperti dia hari ini: mengaku berkuasa, berdiri di atas orang kecil, mengambil hasil keringat rakyat, dan membuat hidup orang biasa selalu penuh ketakutan dan kesusahan.


Secara budaya dan mitologi Jawa, Genderuwo memang lekat dengan gambaran kekuasaan yang sewenang-wenang, kekuatan yang tak terkendali, dan dominasi yang dipaksakan. Analogi ini bukan sekadar cerita hantu: ini adalah pesan tersirat leluhur bahwa kekuatan besar tanpa belas kasih, serta kekuasaan yang dijalankan tanpa tanggung jawab, persis seperti bayangan Londo Ireng yang selalu mengintai kaum lemah.


Pesan yang ingin disampaikan para leluhur tegas: Jangan biarkan ketakutan menguasai pikiran, dan jangan diam saja jika melihat ada yang bertindak serupa. Bayangan hitam itu hanya akan hilang jika kita berani bersatu, mengangkat suara demi kebenaran sehingga tak ada lagi rakyat kecil yang harus hidup semata dalam ketakutan dan tekanan.

(Red)


Komentar0

Type above and press Enter to search.