TfCpTfA9GfMpTfG9GSYiGUdoBA==

SEMBILAN BULAN PASCA BANJIR, RUMAH MUSNAH TOTAL: NASIB AKBARI TERABAIKAN HANYA KARENA TIDAK ADA DI TEMPAT


PEUDADA – BIREUEN – Radarnet.co.id | Bencana banjir besar yang melanda Desa Arabungong, Kecamatan Peudada, Kabupaten Bireuen pada Kamis hingga Jumat, 26–27 November 2025 silam, hingga kini masih menyisakan duka mendalam dan beban hidup yang berat bagi salah satu warganya, Akbari. Berdasarkan pantauan langsung awak media di lokasi kejadian, sisa bangunan tempat tinggal milik Akbari kini tak lebih dari sekadar pondasi beton yang tertinggal, habis tersapu ganasnya arus banjir yang merendam wilayah tersebut hampir sembilan bulan yang lalu.

 

Kondisi yang sangat memprihatinkan ini semakin terasa ironis dan menyayat hati, lantaran hingga berita ini diturunkan, Akbari belum menerima satupun bentuk bantuan, baik dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, maupun pihak terkait lainnya, guna memulihkan tempat tinggalnya yang telah musnah tak bersisa tanpa sisa barang sedikit pun.

 

Saat dikonfirmasi awak media di lokasi, Keuchik Desa Arabungong membenarkan bahwa data kerugian serta kondisi warga yang bersangkutan sudah lama disusun secara lengkap dan dilaporkan ke jenjang pemerintahan yang lebih tinggi. "Data atas kerugian yang dialami Pak Akbari sudah kami catat, verifikasi, dan sampaikan sesuai prosedur yang berlaku sejak peristiwa itu terjadi. Namun sampai hari ini, belum ada kejelasan pasti mengapa bantuan yang menjadi hak warga tersebut belum juga sampai ke tangan beliau," ungkap Keuchik Arabungong dengan nada prihatin.

 

Di tengah keprihatinan yang mendalam, Akbari menceritakan alasan yang diduga menjadi penyebab dirinya terabaikan dan terpinggirkan dalam penyaluran bantuan. "Katanya saya tidak ada di tempat saat pembagian bantuan dilakukan, padahal saat itu saya terpaksa harus pergi merantau jauh meninggalkan kampung halaman demi mencari nafkah dan menyambung hidup. Bagaimana saya bisa bertahan di sini, sedang rumah sudah hancur lebur dan tak ada apa-apa lagi yang bisa diandalkan untuk bertahan hidup," ungkap Akbari dengan suara bergetar menahan sedih.

 

Air mata hampir menetes dari sudut matanya saat ia melanjutkan, "Kalau nanti saya memutuskan untuk pulang kembali ke kampung halaman, mau tinggal di mana saya? Rumah sudah tidak ada lagi, yang tersisa hanya tanah pondasi ini yang kini penuh lumpur dan reruntuhan. Apakah harus saya tidur di bawah pohon rindang atau terpaksa bermalam di pinggir jalan raya? Bukankah nasib warga yang tertimpa musibah seharusnya menjadi prioritas utama, bukan malah ditinggalkan dan dilupakan hanya karena alasan yang terasa sangat sepele?"

 

Di penghujung perbincangan, Akbari pun menyampaikan harapannya yang tulus namun penuh pertanyaan besar kepada para pemangku kebijakan:

"Saya berharap besar kepada Bapak Bupati Bireuen, Bapak Camat Peudada, serta seluruh pejabat dan pihak yang berwenang di instansi terkait: janganlah melihat dan peduli kepada warga hanya saat mereka ada di depan mata saja. Bantuan itu adalah hak seluruh warga yang tertimpa musibah tanpa terkecuali, baik yang ada di tempat maupun yang terpaksa pergi mencari makan demi bertahan hidup. Jangan biarkan saya terbuang dan tak memiliki tempat berpijak di tanah kelahiran sendiri hanya karena saya harus pergi bekerja saat rumah saya hancur diterjang banjir. Bukankah tugas utama pemerintah adalah menjaga, memelihara, dan memastikan nasib rakyat kecil seperti saya tetap terjamin? Tolonglah, dengarkan rintihan saya ini, jangan biarkan saya menunggu tanpa kepastian sampai kapan pun."

 

Fakta ini menjadi catatan penting dan pelajaran berharga bagi seluruh pemangku kepentingan: bencana alam mungkin sudah berlalu dan air sudah surut, namun penderitaan serta beban hati para korban belum selesai jika perhatian, keadilan, dan kepedulian bagi mereka belum terwujud secara nyata. Semangat kebersamaan serta kepedulian sosial yang sering digaungkan dalam berbagai kesempatan, hingga hari ini belum terasa nyata bagi Akbari—warga Peudada yang kini seolah tak memiliki tempat berpijak di tanah kelahirannya sendiri. Semoga kisah ini dapat menjadi perhatian serius bagi pihak berwenang agar nasib warga yang tertinggal ini segera mendapatkan solusi yang layak dan adil.

---

Komentar0

Type above and press Enter to search.